OPINI PUP

PENDEWASAAN USIA PERKAWINAN DAN KESIAPAN MENIKAH

Berbagai permasalahan/dampak kurang  baik yang ditimbulkan oleh pernikahan dini/pernikahan dibawah umur. Untuk mencegah dampak-dampak yang tidak diinginkan pada pasangan yang sudah menikah perlu perencanaan berkeluarga/kesiapan sebelum melangsungkan pernikahan. Ada beberapa aspek yang perlu dipersiapkan diantaranya :

1. Aspek Kesehatan

Pasangan yang menikah harus siap dari aspek kesehatan/sehat dari segi fisik maupun mental. Ditinjau dari  aspek kesehatan, pernikahan dini/dibawah usia 21 tahun, khususnya wanita  memiliki tingkat  resiko yang cukup tinggi. Wanita menikah usia dini berisiko mengalami masalah kesehatan reproduksi seperti kanker leher rahim dan trauma fisik pada organ intim. Jika sampai terjadi kehamilan di usia dini, resiko kesehatannya akan  lebih tinggi diantaranya :

  • Tekanan darah tinggi, resiko yang lebih berat mungkin akan terjadi, yakni Eklampsia (kejang-kejang)
  • Kelahiran bayi Premature (lahir sebelum usia 38 minggu)
  • Bayi kekurangan berat badan atau Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
  • Memiliki kecendrungan yang tinggi untuk melahirkan anak yang Stunting
  • Proses melahirkan yang memakan waktu lama.
  • Kematian ibu dan janin, pendarahan saat melahirkan disebabkan karena otot rahim yang terlalu lemah menyebabkan pendarahan relatif lebih sulit berhenti

Menikah dibawah umur/kurang dari 19 tahun dapat mengakibatkan Stunting, hal ini disebabkan pada wanita yang masih berumur 19 tahun masih membutuhkan asupan makanan untuk pertumbuhan dan perkembangan organ tubuhnya, sehingga saat mengandung/kehamilan antara ibu hamil dan janin yang ada dalam kandungan sama-sama membutuhkan asupan makanan. Kondisi ini dapat mengakibatkan janin yang ada dalam kandungan kurang asupan makanan yang mengakibatkan kurang gizi dan dampak kurang gizinya adalah Stunting (lahir pendek), BBLR dan cacat.

2. Aspek Usia

Aspek Usia adalah kesiapan umur untuk menikah yaitu minimal 21 tahun untuk laki-laki maupun perempuan. Pentingnya kesiapan usia ini untuk mempersiapkan pola pemikiran yang matang  dalam mempersiapkan sebuah penikahan. Kesiapan ini juga dibutuhkan supaya individu sudah mengetahui dan memiliki pengetahuan tentang melahirkan dan merawat anak serta kehidupan berkeluarga.

Dampak positif jika usia lebih matang adalah berhubungan dengan kematangan secara emosi dan kedewasaan dalam menyikapi kehidupan pernikahan. Kematangan usia ini akan berkaitan dengan kematangan organ biologis dalam melakukan hubungan seksual dalam pernikahan. Dampak menikah di usia yang belum matang akan menyebabkan pengetahuan tentang pernikahan masih minimal, emosi yang belum stabil sehingga mengakibatkan stres dan tertekan, angka kematian ibu-anak semakin tinggi, dan tekanan ekonomi pasangan juga semakin tinggi.

3. Aspek Mental

Aspek Mental adalah kemampuan individu dalam mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, siap dalam mengantisipasi resiko yang ada, dan menyeimbangkan antara harapan dan kenyataan. Dampak positif dari kesiapan mental yang baik adalah dapat menyiapkan rencana seperti mengantisipasi permasalahan keluarga., memiliki kesiapan merencanakan pernikahan.

4. Aspek Fisik

Aspek Fisik adalah kesiapan secara biologis seperti kesiapan organ biologis untuk melakukan hubungan seksual dan kematangan untuk melakukan pengasuhan serta melakukan pekerjaan rumah tangga. Dampak positif apabila seseorang memiliki kesiapan fisik yang baik adalah individu dapat merawat dan membersihkan diri dengan baik sehingga dapat melakukan hubungan seksual dengan baik. Selain itu, individu yang sehat dapat melakukan pekerjaan rumah tangga sehingga rumah menjadi rapi dan bersih. Kemudian individu yang sehat akan dapat mengasuh dan merawat anak dengan baik.

5. Aspek Psikologis

Beberapa dampak yang dapat ditimbulkan akibat dari terjadinya pernikahan dini dalam pespektif Psikologis yaitu :

  • Emosi yang tidak stabil dapat memicu retaknya hubungan rumah tangga (pertengkaran)
  • Rentan mendapat perlakuan kekerasan berbasis gender
  • Berpotensi mengalami kegagalan dalam membangun keluarga (perceraian)
  • Kondisi emosional yang labil ketika paska melahirkan (baby blues)
  • Mengalami ketidakstabilan emosi (stres/depresi) karena tuntutan sebagai orang tua muda.

6. Aspek Sosial

Aspek Sosial adalah kemampuan untuk mengembangkan berbagai kapasitas agar dapat mempertahankan pernikahan. Selain itu terdapat interaksi antara individu dan masyarakat luas seperti hubungan untuk diterima lingkungan sekitar dan dapat menyediakan karir untuk masa depan keluarganya. Apabila individu memiliki kesiapan sosial yang baik maka dapat berhubungan dengan lingkungan sekitar dengan baik, sehingga hubungan dengan keluarga besar dan tetangga menjadi harmonis. Jika individu tidak dapat memiliki kesiapan sosial maka individu tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar sehingga menyebabkan terjadinya kesalahpahaman.

7. Aspek Ekonomi

Secara  umum remaja yang menikah usia dini seringkali mengalami masalah ekonomi yang menjadi salah satu sumber ketidakhormonisan rumah tangga/keluarga. Pasangan usia muda belum mampu dibebani suatu pekerjaan yang memerlukan keterampilan fisik untuk mendatangkan penghasilan baginya dan mencukupi kebutuhan keluarganya. Faktor ekonomi merupkan salah satu faktor yang berperan dalam mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangga.

8. Aspek Moral

Aspek Moral adalah kemampuan untuk mengetahui dan memahami nilai-nilai kehidupan yang baik seperti komitmen, kepatuhan, kesabaran dan memaafkan. Individu yang mempersiapkan moral dengan baik maka dapat membedakan mana yang benar dan yang salah dalam mengaplikasikan ke nilai-nilai kehidupan pernikahan dan menjadikan individu yang berkualitas sehingga dapat mendidik generasi selanjutnya untuk memiliki moral yang baik.

Apabila individu tidak memiliki kesiapan moral yang baik maka dikhawatirkan tidak memiliki prinsip dan pegangan nilai-nilai kehidupan yang baik sehingga dapat memutuskan sesuatu tergesa-gesa tanpa memikirkan akibatnya. Dan jika tidak memiliki komitmen yang baik seseorang dapat tergoda dengan orang lain sehingga menyebabkan pernikahan menjadi berantakan.

9. Aspek Interpersonal

Aspek Interpersonal adalah kemampuan individu dalam melakukan kompetensi dalam berhubungan seperti pasangan suami isteri harus saling mendengarkan, membahas permasalahan pribadi dengan pasangan dan menghargai apabila terdapat perbedaan.  Jika tidak memiliki kesiapan interpersonal yang baik maka seseorang akan lebih sering mengalami perselisihan dikarenakan tidak mau saling memahami dan peduli dengan orang lain.

10. Aspek Keterampilan Hidup

Aspek Keterampilan Hidup adalah kemampuan seseorang dalam mengembangkan berbagai kapasitas untuk memenuhi peran di dalam keluarga seperti menjaga kebersihan rumah, merawat dan mengasuh anak, melayani suami, dsb. Apabila ini sudah dimiliki maka akan terjalin kerjasama dalam menyelesaikan pekerjaan dalam rumah tangga dan mewujudkan kepuasan dan kesejahteraan keluarga.

11. Aspek Intelektual

Aspek Intelektual adalah kesiapan yang berhubungan dengan kemampuan individu dalam berfikir, menangkap informasi dan berhubungan dengan kemampuan mengingat. Digunakan sebagai penunjang dan pendukung dalam mencari informasi dan pengetahuan tentang pernikahan dan cara-cara merawat anak atau mengelola keuangan. Jika tidak memiliki kesiapan secara intelektual dapat menyebabkan pertengkaran dan adanya kesalahan dalam memecahkan atau menangani suatu permasalahan.

Menyikapi hal di atas Pemerintah Provinsi NTB melakukan percepatan penurunan angka perkawinan dini dengan program unggulan Pendewasaan Usia Perkawinan yang Indikatornya dilihat dari rata-rata usia kawin pertama perempuan 21 tahun baik laki-laki maupun perempuan. Untuk mendukung program upaya pendewasaan usia perkawinan, dikeluarkannya Surat Edaran Gubernur No. 180/1153/Kum/2014 tentang Usia Ideal Menikah 21 tahun bagi Laki-laki maupun Perempuan. Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi NTB sebagai OPD yang berperan mengkoordinasikan dan mensukseskn Pendewasaan Usia Perkawinan di NTB dengan merangkul berbagai pihak mulai dari OPD terkait, LSM, kader, PLKB, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat , Kelompok remaja, PKK maupun masyarakat pada umumnya.

Data BPS Provinsi NTB tahun 2018, usia rata-rata perkawinan pertama pada perempuan di NTB 20,23 tahun, yang artinya rata-rata usia kawin yang ditargetkan 21 tahun harus mengejar 0,77 tahun agar target tercapai.  Berbagai upaya telah dilakukan untuk mensukseskan Pendewasaan Usia Perkawinan di NTB diantaranya; Sosialisasi PUP ke masyarakat (pondok pesantren, sekolah-sekolah, madrasah), membentuk Kelompok Dialog Warga (terdiri dari Tokoh-tokoh, Kelompok Remaja Putra dan Putri, Kelompok Ibu-ibu), Pelatihan fasilitator PUP, Pelatihan fasilitator Dialog warga, Membuat perjanjian/MoU antara Gubernur dengan Bupati/Walikota, dll.

Tantangan saat ini adalah masih tingginya angka pernikahan dini di 2 (dua) kabupaten yaitu Lombok Tengah dan Lombok Timur, dimana kedua kabupaten tersebut masih dibawah angka rata-rata provinsi yaitu 19 tahun. sehingga kedepan yang perlu dilakukan upaya menekan angka pernikahan dini difokuskan ke wilayah yang dua tersebut dintaranya membuat percontohan Kelompok Dialog Warga di Desa Pandan Wangi Kabupaten Lombok Timur dan Desa Sengkerang Kabupaten Lombok Tengan, dimana kedua desa tersebut masih tinggi angka perkawinan dininya. Sosialisasi PUP uga difokuskan desa-desa yang tinggi angka perkawinan dininya.

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *