Pendampingan Bina Keluarga Balita di Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur

Pendampingan Bina Keluarga di kecamatan dilaksanakan di 2 desa model yaitu Desa Pandanwangi Lombok Timur dan Desa Sengkerang Lombok Tengah dilaksanakan pada tanggal 3-6 Januari 20120. Pendampingan bagi Kader BKB ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader agar dapat memberikan penyuluhan yang benar kepada ibu-ibu yang memiliki balita mengenai pola asuh yang benar dan harapan ke depan jika ibu-ibu yang memiliki balita faham cara mengasuh anaknya dengan benar makan anak-anak akan tumbuh sehat dan cerdas sehingga pada akhirnya tidak ada lagi ditemukan kasus stunting/kurang gizi.

Dipilihnya 2 desa model tersebut berdasarkan lokasi prioritas pembangunan daerah yaitu 100 desa miskin yang telah di SK-kan oleh gubernur, desa stunting yang sudah ditetapkan oleh Dinas kesehatan Provinsi NTB dan Desa GEN. Desa Model ini kemudian akan dijadikan lokasi contoh untuk desa-desa lain dalam mengembangkan program kesehatan maupun kegiatan peningkatan ekonomi masyarakat menuju masyarakat desa yang sejahtera.

Kegiatan pendampingan ini dihadiri oleh Tim DP3AP2KB Provinsi NTB sebagai pengarah dan narasumber, Tim DP3AKB kabupaten sebagai narasumber dan fasilitator dan peserta sebanyak 25 orang di masing-masing desa yang terdiri dari PLKB, Kader BKB, pengurus Kampung KB dan anggota kelompok BKB. Materi yang disampaikan pada pendampingan ini adalah 1000 HPK oleh Siti Muzakarah, SKM (Kasi Keluarga Sejahtera) dan pengembangan BKB HI (Holistik Integratif dengan posyandu dan PAUD) oleh Narasumber dari kabupaten.

Gb. 1 Kiri, Kegiatan Pendampingan BKB di Desa Pandanwangi dan Kanan Pendampingan BKB di Desa Sukaraje Lombok Timur bersama Tim DP3AKB Lotim, PLKB, Kader BKB/Posyandu dan Pamong Desa

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh kabupaten khususnya Loteng dan Lotim mengenai semangat kegiatan BKB ini yang mulai menurun antara lain; masih ada kader yang belum mendapat honor, kader yang mendapatkan honor pun masih jauh dari standar pembayaran APBD yang semestinya 150 ribu bulan tapi masih menerima 50 ribu, belum pernah ada pelatihan kader dari kabupaten maupun BKKBN perwakilan provinsi sehingga banyak kelompok yang hanya ada namanya saja tapi tidak pernah ada kegiatan rutin alias mati suri. Kesan yang mereka sampaikan kepada Tim Provinsi agar sering melakukan pembinaan atau pendampingan seperti kegiatan ini untuk menambah wawasan kader sehingga ibu-ibu yang disuluh juga memahami dengan optimal cara mengasuh balita mereka dengan benar sehingga anak-anak akan tumbuh menjadi sehat dan cerdas.

Demikian ulasan mengenai kegiatan Bidang pengendalian penduduk dan Keluarga Berencana DP3AP2KB Provinsi NTB, semoga bermanfaat….Terima Kasih bagi yang sudah membaca.

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *