DIALOG BERSAMA ANAK-ANAK AHMADIYAH DI KAB LOTIM DAN KAB LOBAR PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT


Mataram, 5 September 2019 – Kementerian Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Republik Indonesia melaksanakan kegiatan “DIALOG BERSAMA” Anak-anak dari kalangan Ahmadiyah yang berada di Kab.Lotim dan Kab. Lobar Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak (PHA) DP3AP2KB Provinsi NTB, Ibu Dwi Murtiningrum, SH. beliau menyampaikan bahwa Pemerintah Daerah Provinsi NTB melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB)  Provinsi NTB  sangat  mendukung  dan berterimakasih atas kegiatan ini.  Pemerintah  juga hadir untuk memberikan hak-hak kepada anak-anak Ahmadiyah  salah satunya yaitu  hak untuk bersenang-senang dan bergembira. Dengan adanya kegiatan ini secara tidak langsung anak-anak Ahmadiyah tersebut memperoleh  kesempatan dan manfaat menikmati hak-haknya sebagai anak yg di lindungi oleh Undang Undang no 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Melalui kegiatan Dialog ini diharapkan supaya anak-anak dari golongan minoritas dan terisolasi dapat memiliki hak yang sama dengan anak-anak Indonesia yang lainnya atas tumbuh kembang dan perlindungan dari berbagai bentuk diskriminasi, kekerasan, penelantaran dan eksploitasi.

Narasumber dalam kegiatan ini adalah Kepala Bidang Perlindungan Anak dari Minoritas dan Isolasi KPPPA RI bapak Nanang Ar Rahman, S.Sos, Msi, dalam pemaparannya beliau menyampaikan bahwa setiap anak memiliki hak atas tumbuh-kembang dan perlindungan dari berbagai bentuk diskriminasi, kekerasan, penelantaran dan eksploitasi. Pemenuhan atas hak anak menjadi kewajiban bagi keluarga, masyarakat dan Negara. Dalam hal ini pemerintah mendapat mandat dari UUD 1945 Pasal 28B dan amanat ini dijabarkan dalam UU No. 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

Anak minoritas dan terisolasi dapat berasal dari kelompok masyarakat yang memiliki budaya, kepercayaan/keyakinan, dan bahasa yang berbeda dari kelompok mayoritas. Perbedaan tersebut rnembuat mereka rentan memperoleh perlakuan diskriminatif dan kekerasan dari kelompok mayoritas. Salah satu contoh kejadian dimasa lampau ada dari golongan tertentu menjadi korban. Akibatnya, selain mengalami luka fisik dan psikis, mereka harus meninggalkan tempat tinggal mereka dan mengungsi ke tempat yang dianggap lebih aman.

 

 

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *