SELAMAT DATANG DI WEBSITE DINAS PEMBERDAYAAN PEREMPUAN PERLINDUNGAN ANAK PENGENDALIAN PENDUDUK DAN KELUARGA BERENCANA PROVINSI NTB.   JADILAH PELOPOR YANG MEMUTUS MATA RANTAI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK SEKARANG JUGA
Berita,  Bidang Pengendalian Penduduk & Keluarga Berencana,  DP3AP2KB NTB,  Pengumuman

Peran Keluarga Sangat Penting Dalam Mendukung Suksesnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Mataram (7/08/2020) – Dalam mendukung suksesnya program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), peran keluarga/orang tua diimplementasikan melalui 8 fungsi keluarga yaitu: Agama, Sosial Budaya, Cinta Kasih, Perlindungan, Reproduksi, Pendidikan, Ekonomi dan Lingkungan, dimana muaranya adalah untuk mencapai Ketahanan Keluarga Dalam sambutannya Kepala BKKBN Perwakilan Nusa Tenggara Barat, dr.Rusnawi Faisol Sp.KK menegaskan bahwa penting bagi keluarga mendukung proses pertumbuhan anak mulai dari awal konsepsi sampai anak berumur 2 tahun.
“Informasi pola asuh yang tepat dapat diberikan oleh kader, Toma, Toga dan Petugas yang langsung bertemu dengan para orang tua di lingkungan masyarakat”, ujar dr. Rusnawi Faisol.

“Untuk itu kita melatih para pengelola program nasional agar mempunyai kemampuan yang cukup dalam mendampingi orang tua dalam mengasuh anaknya sehingga dapat melahirkan generasi berkualitas yang merupakan investasi di masa datang”, lanjutnya.
Dra. Hj. Nurhayati Kepala Bidang KSPK BKKBN menjelaskan rebranding program BKKBN Bangga Kencana yang merupakan akronim Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana.

“Peran serta anak muda dimulai saat menikah, dengan menikah pada usia ideal 21 tahun diharapkan telah menyelesaikan pendidikannya, sehingga mampu bekerja dan mencukupi kebutuhan keluarganya serta matang secara emosional mampu bertanggung jawab sebagai orang tua,”, ujarnya.
Selanjutnya Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat, dr. Nurhandini Eka Sp.A memaparkan fungsi pelayanan Posyandu sebagai jejaring fasilitas pelayanan kesehatan yang dapat diintegrasikan dengan program Bina Keluarga Balita (BKB) khususnya di masa Pandemi Covid 19.

“Program Revitalisasi Posyandu melalui Posyandu Keluarga lebih lengkap pelayanannya jika ada program BKB, PAUD HI, sehingga masyarakat memperoleh pelayanan yang komplet dalam 1 tempat dan 1 waktu ”,urai perempuan yang biasa disapa Bu Titik tersebut.
Posyandu sebagai wujud Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) mampu mendukung program pelayanan kesehatan dasar mulai ibu hamil, bayi, balita, remaja hingga Lansia, semua kelompok usia tersebut dapat mendapatkan pelayanan kesehatan secara terpadu di Posyandu Keluarga.
Kader Posyandu sebagai mitra petugas perlu mendapatkan pelatihan agar mampu menyampaikan informasi kepada sasaran. Pola asuh dimasyarakat secara turun temurun yang tidak sesuai dengan kaidah ilmu kesehatan dapat diperbaiki dengan pendampingan petugas kesehatan.

Di masa Pandemi Covid 19, gerak masyarakat dibatasi sesuai dengan protokol kesehatan, pola pemberian informasi kepada sasaran dapat dilakukan melalui Dasawisma, yaitu kelompok sasaran yang terdiri dari 10 rumah. Melalui Dasa Wisma kader dapat melakukan aktifitas seperti penimbangan, penyuluhan dan pelayanan kesehatan dengan membawa cara ibu balita sasaran membawa sarung timbangan sendiri dari rumah.

“Saat itulah Kader Posyandu mulai menjelaskan tentang pola asuh anak di masa Pandemi Covid 19”, pungkas Bu Titik.
Pembicara lain dr. Titi Pambudi Sp.A menjelaskan peran kader dan orangtua dalam mendeteksi dini kasus Stunting. Menurut Titi, pertumbuhan anak dipantau melalui perubahan fisik, tinggi badan, berat badan, sedangkan perkembangan dapat dapat dilihat dari kemampuan anak dari sisi motorik, sensorik dan sosial.

“Setiap anggota BKB harus mempunyai Buku KIA sebagai rapor atau catatan untuk memantau tumbuh kembang seorang anak apakah sudah sesuai dengan standar untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya stunting pada anak”, ujar Titi.
Dari sudut pandang psikolog, Lalu Yulhaidir M.Psi menjelaskan bagaimana peran orang tua dalam perkembangan seorang anak. Peran ayah dan ibu ibarat sebagai madrasah pertama anak dalam mendampingi tumbuh kembangnya. Beberapa kasus kenakalan anak ketika ditelusuri berawal dari keluarga yaitu kurangnya perhatian dari orangtua dan cara pengasuhan yang tidak tepat, untuk itu perlu bagi orang tua mendampingi sang buah hati agar berkembang dengan sempurna dan saatnya nanti mereka mampu melahirkan pemipin-pemipin terbaik dimasa depan.

Kegiatan peningkatan kapasitas bagi pengelola ptogram nasional 1.000 HPK diikuti oleh 100 orang yang berasal dari perwakilan kader BKB masing-masing kabupaten/kota, OPD KB dari masing-masing kabupaten/ kota, DP3AP2KB Provinsi, TP PKK Provinsi, Dinas Kesehatan Provinsi, PAUD Dikmas.

Kegiatan diselenggarakan di hotel Grand Legi Mataram berlangsung selama 3 hari mulai 3 sampai dengan 5 Agustus 2020 dengan penerapan protokol Covid 19.(ddt.dp3ap2kb)

#dp3ap2kbntb
#ntbamandanberkah
#kabkotalayakanak
#ntbgemilang

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *