Berita,  Bidang Pengendalian Penduduk & Keluarga Berencana,  DP3AP2KB NTB

Atasi Pernikahan Anak, Pelajaran Kesehatan Reproduksi masuk Kurikulum Pendidikan

(Mataram, 01/10/2020) – Sekda Provinsi NTB, Drs Lalu Gita Ariadi, M.Si mengungkapkan bahwa Pernikahan Anak memberikan kontribusi tidak langsung terhadap angka kematian Ibu dan bayi serta berkontribusi pada munculnya kasus kekerasan pada perempuan dan anak.
Hal tersebut disampaikan pada rapat pembelajaran Kesehatan Reproduksi Remaja di Satuan Pendidikan berlangsung pada hari kamis tanggal 1 Oktober 2020, bertempat di Aula Anggrek Kantor Gubernur Provinsi NTB.

“Pernikahan tanpa dibekali kesiapan fisik dan mental tidak akan dapat menjalankan fungsi keluarga, sehingga tujuan perkawinan yang sakinah mawadah warohmah tidak tercapai,” Miq Gita panggilan akrabnya.

“Penting bagi kita untuk mengetahui mengapa terjadi pernikahan usia muda, supaya dapat mencari solusi pemecahan masalahnya,”lanjutnya.
Dijelaskan lebih lanjut, perlu mencari cara yang strategis misalnya melalui melalui lembaga pendidikan, informasi dapat diberikan oleh guru kepada siswa dengan metode yang sesuai. Deseminasi informasi kesehatan reproduksi remaja harus dilakukan sesuai dengan adat budaya daerah, jika ada contoh penerapan dari daerah lain harus disesuaikan dengan daerah NTB, hal-hal yang baik dapat diadopsi sedangkan yang tidak sesuai harus dibuang. Mamiq Gita member istilah ATM, yaitu amati tiru dan modifikasi.

Menanggapi masalah tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, DR. H. Aidy Furqon menyampaikan materi kesehatan reproduksi remaja sudah ada di kurikulum dan diintegrasikan dalam mata pelajaran IPA Terpadu, Biologi, Agama, Penjaskes.
“Kurikulum kita sudah mengadopsi materi kesehatan reproduksi remaja, maka yang perlu kita lakukan adalah menerapkan dengan strategi pembelajaran yang tepat,”ujarnya.

“Tindakan kita lebih kearah preventif, untuk mencegah dampak pernikahan usia muda, strategi pembelajaran melalui pola sisipan dalam beberapa mata pelajaran yang terkait, bisa juga melalui kegiatan ekstra kurikuler seperti Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Palang Merah Remaja (PMR), Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), melalui muatan lokal atau melalui kemitraan bersama OPD seperti Kementerian Agama, DP3AP2KB dan Dinas Kesehatan sesuai dengan tupoksi masing-masing.

Selanjutnya Kepala bidang Pendidikan Dasar Dinas Dikbud Kabupaten Lombok Barat, Ahmad, S.Pd, M.Si bahwa materi kesehatan reproduksi Remaja telah masuk ke 4 sekolah yaitu SMPN 1 Lembar, SMPN 2 Lembar, SMPN 1 Kediri dan SMP Islamiyah Ihya Ulumudin Jagaraga Indah. Implementasi kegiatan berupa Aksi Bergizi setiap hari Rabu selama 40 menit, semua siswa sekolah diberi tablet tambah darah (tablet Fe), kemudian sarapan bersama dan menyelenggarakan literasi dengan modul aksi bergizi.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa kegiatan tersebut juga perlu didukung komitmen bersama semua stakeholder, dibantu oleh REUTGERS dalam menyiapkan modul SETARA (Semangat Usia Remaja) selama 4 tahun. Guru-guru juga diberi pelatihan agar dapat menyampaikan informasi secara benar kepada siswa.

Kepala Sekolah SMP 1 Lembar H. Saidi S.Pd membagikan pengalamannya dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Yang pertama dilakukan adalah sosialisasi kepada orangtua, tokoh agama dan tokoh masyarakat sekitar lingkungan sekolah, karena masalah kesehatan reproduksi masih dianggap tabu,”terang Saidi.

Menurut Saidi, kesehatan reproduksi remaja merupakan materi yang komprehensif, tidak sebatas organ reproduksi saja, tetapi juga menyangkut sistem reproduksi dan berbagi dampak negatif akibat tidak menjaga kesehatannya. Guru IPA dan Penjaskes juga dilatih untuk meningkatkan skill bagaimana cara menyampaikan secara komprehensif kepada siswa. Kiranya kegiatan seperti yang dilakukan di Kabupaten Lombok Barat secara nyata berkontribusi dalam menurunkan pernikahanan anak di masyarakat.

Diakhir acara Kepala Dinas P3AP2KB Prov NTB Ir.Husnanidiaty Nurdin, MM menyampaikan langkah-langkah selanjutnya yang harus ditempuh dengan integrasi program dan membuat pedoman kerja terkait tugas dan fungsi masing-masing. Selanjutnya harus dipetakan sasaran pada titik-titik yang rawan, selanjutnya diperlukan pelibatan masyarakat untuk mensukseskannya.

Sebagai informasi rapat koordinasi tersebut melibatkan OPD terkait serta lembaga pemerhati pendidikan yaitu Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTB, , Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Dinas P3AP2KB Provinsi NTB, TP-PKK Provinsi NTB, LPA NTB, Forum Puspa, Rutgers dan beberapa Dinas di lingkup pemerintah Kabupaten Lombok Barat yaitu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas P2KBP3A dan SMPN 1 Lembar.(fani.dp3ap2kb)

#dp3ap2kbntb
#ntbamandanberkah
#ntbgemilang

Berbagi Kebaikan Melalui SOSMED

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *