Berita,  Bidang Pemenuhan Hak Anak,  DP3AP2KB NTB

Marak Pernikahan Usia Dini, Siapa Bertanggung Jawab?

Mataram , (28/10/2020) – Marak Pernikahan Usia Dini kembali menyita perhatian publik, apalagi terjadi saat Pandemi Covid 19, untuk mengupas tuntas masalah tersebut i News TV menyelenggarakan Talkshow secara daring dengan menghadir kan Pemangku kepentingan dari Dinas P3AP2KB, Kanwil Kementerian Agama, MUI dan Lembaga Masyarakat Adat Sasak.

Mengawali diskusi, Ir. Dede Suhartini, M.Si. yang mewakili DP3AP2KB memaparkan bahwa posisi NTB dikancah nasional masuk dalam urutan 10 besar, menurun dibandingkan pada awal-awal tahun 2020, lebih baik dibanding Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

“Permasalahan di NTB menjadi viral karena adanya postingan pasangan nikah muda yang diposting di Media Sosial,” tutur Bu Dede.

“Memang sangat luar biasa peran Media Sosial dalam menyebarkan berita-berita yang menarik perhatian seperti kasus pernikahan anak, apa lagi jika dikait-kaitkan dengan adat sosial budaya masyarakat, pasti mudah viral,” lanjut Bu Dede.

Selanjutnya dijelaskan Bu Dede bahwa permasalahan ini menjadi tanggung jawab pemerintah daerah yang merupakan urusan wajib non pelayanan dasar yang tercermin dalam 2 program yaitu Pemenuhan Hak Anak dan Perlindungan Khusus Anak.

“Kita terus mengkaji penyebab utama maraknya perkawinan anak ini apakah karena faktor orang tua yang ingin melepas beban sesaat, atau faktor anak sendiri karena pengaruh lingkungan dan atau faktor permisif dari aparat kepala dusun/lingkungan yang mudah memberikan dispensasi nikah,” tambah Bu Dede.

Narasumber lain dari Kanwil Kementrian Agama, Drs. H. Asharuddin mensinyalir bahwa salah satu penyebab naiknya kasus pernikahan anak di Provinsi NTB karena adanya perubahan batas usia nikah sesuai Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Kalo menurut UU nomor 1 tahun 1974 usia nikah anak perempuan adalah 16 tahun, tetapi sekarang menjadi 19 tahun sehingga anak yang yang menikah usia 16 s/d 18 masuk kategori Pernikahan Anak.

“Sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk berusaha mencegah Perkawinan Anak melalui kotbah nikah, disitu harus diberikan pemahaman yang baik kepada calon mempelai dan masyarakat tentang hak dan kewajiban suami istri,” ujar Asharuddin.
Sementara itu, TGH Muhsan Yunus dari MUI lebih menyoroti maraknya perkawinan anak dari sisi efek negatif kemajuan ilmu dan teknologi, dikatakan bahwa saat ini anak-anak lebih mudah mengakses informasi dari manapun, kemudian menggunakan dengan tidak benar.

“Kewajiban kita sebagai ulama adalah terus menanamkan nilai-nilai agama yang baik kepada anak-anak, kita tanamkan rasa senang kepada ilmu pengetahun dan menggunakannya secara bijak,” pesan TGH. Muhsan.
Analisis menarik datang dari Lalu Anggawa Nuraksi dari Majelis Adat Sasak, beliau selalu prihatin jika masyarakat yang berdalih “Budaya Merariq” sebagai penyebab pernikahan anak.

“Di dalam lontar Indarjaya dikisahkan Datu Puspakarma punya 2 anak laki dan perempuan, saat anaknya bertanya kapan boleh merariq, dijawab setelah umur 20 bagi putrinya dan 25 tahun bagi putranya,” ujar Lalu Anggawa.

Secara bijak, Datu Puspakarma mensyaratkan anak lelakinya harus memelihara sapi sampai beranak pinak menjadi 72 ekor, sedangkan kepada putrinya disyaratkan menenun kain sampai mencapai 40 peti. Itu artinya membutuhkan waktu yang cukup lama sampai anak-anaknya dewasa dan cukup umur untuk menikah. Ini sebuah perumpamaan yang mengandung nasehat yang sangat baik.

Lebih lanjut, Lalu Anggawa Nuraksi menjelaskan tentang macam-macam kategori “dedare” yang ada di masyarakat. Dikatakan ada 4 jenis dedare yaitu: Dedare Kodeq usia kurang dari 16 tahun dimana golongan ini belum boleh nikah, jika memaksa nikah maka harus menjalani adat kawin gantung yaitu belum boleh berhubungan sebagai suami istri. Dedare Ngantung usia 17 sampai 25 tahun yang sudah boleh nikah, Dedare Pekeh usia 26 sampai 31 tahun, golongan ini harus dibantu mencari jodoh karena sifatnya yang malu dan susah cari jodoh, dan Dedare Mosot yang diartikan dedare yang sudah cukup tua tetapi belum dapat jodoh.(ddt.dp3ap2kb).

#dp3ap2kbntb
#stoppernikahandini
#ntbamandanberkah
#ntbgemilang

Berbagi Kebaikan Melalui SOSMED

Satu Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *