Berita,  Bidang Pengendalian Penduduk & Keluarga Berencana,  DP3AP2KB NTB

Pendewasaan Usia Perkawinan menghindari dampak buruk pada kesehatan ibu dan anak

Lombok Barat (16/11/2020) – Pemerintah provinsi mendorong kabupaten/kota untuk memberikan edukasi pentingnya upaya Pendewasaan Usia Perkawinan demi mempersiapkan masa depan generasi muda.

Demikian resume sambutan Kepala Dinas P3AP2KB Provinsi NTB Ir. Husnanidiaty Nurdin, MM. pada kegiatan sosialisasi Pendewasaan Usia Perkawinan di Kabupaten Lombok Barat. Selanjutnya Bunda Eny menjelaskan bahwa peran provinsi adalah memfasilitasi dengan mempersiapkan regulasi sebagai landasan pelaksanaannya di daerah. Saat ini sedang disusun grand design pengendalian kependudukan (GDPK) dan Ranperda pencegahan perkawinan anak serta peraturan gubernur tentang pendewasaan usia perkawinan. Diharapkan kabupaten/kota dapat menindaklanjuti dengan menerbitkan peraturan daerah sampai peraturan desa agar dapat diterapkan di masyarakat.

“Saya harapkan regulasi-regulasi tersebut dapat menjadi pedoman bagi kabupaten/kota dalam menekan laju pernikahan anak demi mewujudkan keluarga berkualitas,”demikian Bunda Eny memberi semangat kepada stakeholder yang hadir di aula kantor desa Kediri Selatan Kabupaten Lombok Barat.

Pada kesempatan yang sama Sekretaris Dinas P2KBP3A Lombok Barat ibu Erni Suryana, S.ST, MM. mengungkapkan rasa prihatinnya atas viralnya berita perkawinan anak SMK di Lombok Barat yang menikahi 2 orang sekaligus.

“Mau dikasih makan apa nanti keluarganya? Sedangkan pekerjaan belum jelas, apakah dia tahu seperti apa cara membentuk keluarga yang berkualitas ?,”ujar Erni prihatin.

Selanjutnya Erny Suryana mengupas habis dampak perkawinan usia anak yang belum banyak dipahami masyarakat bahkan oleh perangkat desa. Saat mereka menikah dibawah tangan, secara administrasi tidak akan tercatat di KUA, akibatnya tidak memiliki buku nikah dan kartu keluarga yang berimbas pada kepemilikan akta kelahiran anak, kartu BPJS serta kepemilikan surat-surat lain yang dibutuhkan untuk mengakses suatu program bantuan pemerintah seperti Keluarga Harapan (PKH), sayang sekali karena kealpaan mereka berujung penderitaan.

Dari sisi kesehatan, perkawinan di usia muda mengakibatkan timbulnya gangguan sistem reproduksi karena belum siap untuk bekerja, kandungan belum siap menampung janin hasil konsepsi, hal ini akan mengakibatkan gangguan sistem reproduksi yang dapat mengakibatkan pada kematian ibu dan bayi saat melahirkan, jika anak lahir dengan berat badan bayi rendah (BBLR) mempunyai resiko stunting. Yang paling berbahaya adalah timbulnya penyakit Cancer pada kandungan (cancer cervik) pada ibu di kemudian hari.

Pada akhir paparannya, Erny mengajak semua pihak mulai dari perangkat desa, orangtua, kader PKK desa, kader posyandu untuk saling peduli dalam mencegah terjadinya perkawinan anak demi terhindar dari dampak buruknya. (fani.dp3ap2kb)

#dp3ap2kbntb
#ntbamandanberkah
#stopperkawinananak
#ntbgemilang

Berbagi Kebaikan Melalui SOSMED

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *