Berita

Turunkan Kasus Perkawinan Anak, DP3AP2KB gandeng RUTGERS

(Senggigi, 08/04/2021) – Masalah perkawinan anak masih menjadi persoalan di Nusa Tenggara Barat, tercatat 840 kasus dispensasi perkawinan di Pengadilan Agama. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) mencatat, persentase Perempuan Usia 20-24 tahun yang usia perkawinannya kurang dari 18 tahun sebesar 1,2 juta (11, 21%) yang artinya 1 dari 9 perempuan usia 20-24 tahun menikah pada usia anak. Sedangkan di NTB kasusnya lebih tinggi yaitu 15,48%, angka ini naik menjadi 16,1%. pada tahun 2019. Perkawinan usia anak lebih rentan terjadi pada perempuan, hanya 1 dari 100 laki-laki usia 20-24 yang menikah pada saat usia anak.

Pemerintah berusaha menurunkan angka kejadian perkawinan usia anak dari 11,2% pada tahun 2018, menjadi 10,8% pada tahun 2019 dan ditargetkan sebesar 8,7% di tahun 2024 (www.bappenas.go.id). Anak perempuan di daerah perdesaan 2 kali lebih berisiko menikah di usia anak, dibanding yang berada di wilayah perkotaan. Dan perempuan (usia 20-24 tahun) yang menikah sebelum 18 tahun berisiko 4 kali lebih besar untuk tidak menyelesaikan SMA daripada mereka yang menikah di atas 18 tahun. Perempuan yang tinggal di keluarga ekonomi lemah memiliki risiko 3 kali lebih besar untuk mengalami perkawinan di usia anak.

Berbagai upaya dilakukan untuk menekan kasus perkawinan anak di NTB, yang terbaru adalah Perda Pencegahan Pernikahan Anak yang sudah disetujui DPRD. Kadis P3AP2KB Provinsi NTB Ir.Husnanidiaty Nurdin, MM menggandeng berbagai Lembaga untuk mengatasi hal tersebut diantaranya dengan Rutgers sebuah lembaga non profit yang konsen pada peningkatan Hak dan Kesehatan Seksual Reproduksi (HKSR) serta mencegah kekerasan berbasis Gender dan Seksual.

“Saya berterima kasih kepada Rutgers yang telah mengimplementasikan programnya di Lombok Barat sejak 2016-2020, sinergitas inilah yang kami harapkan, agar beban ditanggung semua pihak,” tutur Bunda Eny.
“Harapan saya program seperti ini dapat direplikasi di daerah lain,”harap Bunda Eny.

Amala Rahmah dari Rutgers WPF Indonesia menjelaskan selama 5 tahun (2016-2020) telah bergabung dalam sebuah aliansi bernama YES I DO yang fokus pada Pencegahan Perkawinan Anak, Kehamilan remaja dan praktek berbahaya bagi Kesehatan reproduksi anak perempuan di 3 kabupaten, Sukabumi (Jawa Barat), Rembang (Jawa Tengah) dan Lombok Barat (NTB).

Dengan berakhirnya program YES I DO di Lombok Barat, Rutgers WPF dalam persiapan mengembangkan program baru untuk 5 tahun kedepan (2021-2025) yang bernama POWER TO YOUTH, bertujuan mendorong anak perempuan dan perempuan muda terlibat secara aktif dalam proses-proses pencegahan, dan pengambilan keputusan terkait praktik-praktik berbahaya bagi Kesehatan reproduksi perempuan, seperti sunat perempuan dan perkawinananak, kekerasan seksual dan kehamilan yang tidak diinginkan. Pertemuan tersebut mendiskusikan lokus program yang akan dilaksanakan sehingga Program POWER TO YOUTH selaras dengan kebijakan pemerintah daerah.

Berbagi Kebaikan Melalui SOSMED

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *