SELAMAT DATANG DI WEBSITE DINAS PEMBERDAYAAN PEREMPUAN PERLINDUNGAN ANAK PENGENDALIAN PENDUDUK DAN KELUARGA BERENCANA PROVINSI NTB.   JADILAH PELOPOR YANG MEMUTUS MATA RANTAI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK SEKARANG JUGA
Berita

Pembangunan Keluarga dan Pembentukan SDM Unggul Kunci Sukses Atasi Stunting


Mataram, 26 April 2021 – Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan R.I. (PMK) dan Kantor Perwakilan BKKBN Provinsi NTB Sosialisasi Pembangunan Keluarga dan Pembentukan SDM Unggul untuk mengatasi Stunting di NTB.
Plt. Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi NTB Drs Sam’an, M. Si dalam arahannya menekankan untuk fokus dalam pembangunan manusia melalui perencanaan berkeluarga. Dalam hal ini posisi BKKBN sangat strategis sebagai Koordinator Penanganan dan Pencegahan Stunting.
“Saat ini angka Stunting di NTB menyentuh 37,85% diatas angka nasional sebesar 27,7% sementara target yang harus dicapai 14% hingga tahun 2024. Untuk itu, BKKBN menggandeng seluruh mitra kerja baik OPD, Lembaga Kemasyarakatan, NGO dan seluruh pemangku kebijakan agar pekerjaan yang sangat berat ini dapat dilaksanakan secara maksimal dan mencapai target,”paparnya.
Ditempat yang sama Dra. Hj. Hartina, M.M. mewakili TP PKK Provinsi menyampaikan peran PKK dalam mencegah stunting.
”6 peran pokok PKK dalam mencegah stunting yaitu: Pemberdayaan masyarakat desa, revitalisasi Dasa Wisma, Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga melalui kaum ibu dalam menopang perekonomian keluarga, terlibat aktif dalam Posyandu Keluarga dan center of education tingkat dusun bagi keluarga dan terakhir menggerakkan program-program unggulan PKK secara optimal,”tutur Hartina.

Dalam kesempatan tersebut Kepala DP3AP2KB Provinsi NTB Ir. Husnanidiaty, MM. menyampaikan pentingnya Pencegahan Perkawinan Anak melalui kegiatan komunitas seperti Kelompok Dialog Warga.
“Kelompok Dialog Warga ini merupakan wadah masyarakat untuk mencari solusi permasalahan yang ada di desa terkait dengan pencegahan perkawinan anak,”ujar Bunda Eny.
Selanjutnya dijelaskan dalam mengenai pelaksanaan Kelompok Dialog Warga yang terdiri dari 3 kelompok kecil yaitu kelompok Tokoh agama, Tokoh masyarakat dan Tokoh adat. Output kegiatan tersebut adalah terbentuknya Perdes atau Awiq-awiq tentang Pencegahan Perkawinan Anak yang isinya membatasi usia perkawinan dan juga memuat sanksi bagi pelanggarnya.
Kelompok Dialog Warga juga menjadi wadah bagi para remaja untuk mendapatkan pelatihan keterampilan untuk meningkatkan skill dalam peningkatan ekonomi keluarga, seperti perbengkelen, pelatihan tata rias, tata busana, UMKM dan lainnya. Sedangkan kelompok ibu-ibu diedukasi tentang Pola Pengasuhan dan Pendewasaan Usia Perkawinan melalui kelompok pengajian dan kelompok PKK desa.

Sebagai informasi, saat ini sudah terbentuk 40 kelompok Dialog Warga di NTB menyebar di 10 kab/kota, sebanyak 12 kelompok sudah membentuk Awiq-Awiq dan 13 Perdes Perkawinan Anak. Sejak dibentuknya kelompok Dialog Warga pada tahun 2016 hingga 2018, ada tren penurunan angka perkawinan anak secara signifikan di wilayah yang ada kelompok dialog warganya, sehingga diharapkan seluruh desa yang masih tinggi perkawinan anak agar membentuk kelompok Dialog Warga.

Berbagi Kebaikan Melalui SOSMED

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *