SELAMAT DATANG DI WEBSITE DINAS PEMBERDAYAAN PEREMPUAN PERLINDUNGAN ANAK PENGENDALIAN PENDUDUK DAN KELUARGA BERENCANA PROVINSI NTB.   JADILAH PELOPOR YANG MEMUTUS MATA RANTAI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK SEKARANG JUGA
Berita

Komitmen Bersama Untuk Melindungi Anak dari Paham Radikalisme dan Terorisme


Mataram, (29/04/2021) – Diperlukan upaya membangun komitmen bersama antara stakeholder terkait dalam melindungi anak dari paham Radikalisme dan Terorisme.
Upaya tersebut akan efektif jika ada payung hukum sebagai pedoman dalam operasional dilapangan, dimana mengatur peran provinsi,kabupaten/kota dan lembaga terkait. Hal lain yang juga penting adalah dukungan program dari lembaga yang ada seperti Lembaga Perlindungan Anak. Melalui pertemuan koordinasi yang dipimpin oleh Kepala DP3AP2KB Provinsi NTB Ir. Husnanidiaty, MM. maka dimulailah kegiatan membangun kebersamaan memerangi penyebaran paham radikalisme pada anak. Stakeholder yang terkait diantaranya adalah Bangkesbangpoldagri, LPA, MAS, Dinas Sosial dan Kementerian Agama. “Saat ini paham radikalisme sudah masuk ke ranah anak-anak, mereka dijadikan sasaran, oleh karena itu kita wajib melindungi mereka agar tidak terpapar,”ujar Bunda Eny.
“Seperti diketahui, Provinsi NTB khususnya Bima dan Lombok Timur sudah menjadi zona merah penyebaran paham Radikalisme,”tambah Bunda Eny. Pada pertemuan tersebut, wakil dari Bangkesbangpoldagri menjelaskan tentang gerakan radikalisme yang sudah masuk dibeberapa kota seperti Mataram, Bima, Lombok Timur dan Dompu. Mereka masuk melalui kegiatan mahasiswa dan juga kegiatan di sekolah dan Pondok Pesantren. Persoalannya adalah belum adanya sinergisitas dalam upaya pencegahan dan penanganan, perlu gerakan bersama melalui satu forum yang terkoordinir dengan baik.

Sedangkan Ruli Ardiansyah dari LPA NTB menjelaskan penyebab Bima dan Dompu menjadi sasaran penyebaran paham radikalisme.
“Salah satunya adalah kondisi alam Bima dan Dompu sebagai Qoidah Aminah (Aman) karena topografi bergunung-gunung sehingga mempunyai medan yang sulit untuk dideteksi,”jelas Ruli Ardiasyah.“Faktor lain adalah adanya relasi dengan jaringan Poso (group Santoso) yang merupakan istri Santoso berasal dari Bima,”tambahnya.Menurut Ruli harus ada 2 upaya pencegahan yang harus dilakukan yaitu Kontra Radikalisme untuk sasaran yang belum terpapar dan Deradikalisme untuk sasaran yang sudah terpapar. Dan upaya tersebut harus didukung oleh kebijakan khusus di daerah untuk pencegahan Radikalisme pada anak.(ddt.dp3ap2kb).

Berbagi Kebaikan Melalui SOSMED

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *