SELAMAT DATANG DI WEBSITE DINAS PEMBERDAYAAN PEREMPUAN PERLINDUNGAN ANAK PENGENDALIAN PENDUDUK DAN KELUARGA BERENCANA PROVINSI NTB.   JADILAH PELOPOR YANG MEMUTUS MATA RANTAI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK SEKARANG JUGA
Berita,  Bidang Pengendalian Penduduk & Keluarga Berencana

Pengasuhan 1.000 HPK dan Deteksi Tumbuh Kembang Anak Cegah Stunting

Lombok Utara (24/05/2021)—Pembinaan ketahanan keluarga dalam mendukung fungsi keluarga dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas anak , remaja, lansia, pemberdayaan keluarga dan peningkatan kualitas lingkungan keluarga.
Demikian disampaikan oleh Kepala Bidang PPKB Dinas P3AP2KB Provinsi NTB Bq. Ayu Juita Mayasari, SE. pada acara fasilitasi pengasuhan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) di Aula Kantor Desa Malaka Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara.
“Peran keluarga sangat penting dalam 1.000 HPK, orang tua harus memahami pentingnya perkawinan cukup umur bagi anaknya, kematangan usia dan pemahaman orang tua terhadap pola asuh anak dibawah dua tahun akan melahirkan generasi berkualitas,”tambah Bunda Ayu Juita.
Pada kesempatan tersebut hadir juga Kasubag program Untung Basuki, S.Sos yang menjelaskan tentang pengertian 1.000 HPK. Dijelaskan bahwa 1.000 HPK adalah 270 hari masa kehamilan ditambah dengan 730 hari (dua tahun) pertama kehidupan, yang dimulai sejak pertama kali terjadinya konsepsi hingga buah hati berusia 2 tahun. Masa tersebut adalah periode emas dalam pertumbuhan bayi, yang sangat menentukan tumbuh kembang buah hati hingga dewasa. 1.000 HPK berkaitan erat dengan pemenuhan gizi di awal kehidupan.

Momen ini merupakan waktu tepat untuk membangun fondasi kesehatan jangka panjang. Saat itu orang tua dapat mulai membentuk gaya hidup sehat dengan memenuhi asupan nutrisi seimbang dan menerapkan sejak awal masa kehamilan. Dalam jangka panjang, pola asuh tersebut mampu mencegah terjadinya kasus kurang gizi, stunting, diabetes, dan obesitas.
Deteksi dini tumbuh kembang adalah cara untuk menemukan penyimpangan tumbuh kembang balita secara dini sehingga lebih mudah diintervensi karena bila terlambat dideteksi akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak.
Pada kesempatan tersebut Bunda Juita menyampaikan pesan Kepala Dinas P3AP2KB untuk peserta yang terdiri dari kader posyandu, kader BKB, PKK desa, bidan desa dan PLKB. Pesan tersebut agar peserta pertemuan terus melakukan sosialisasi tentang dampak buruk perkawinan anak bagi kesehatan, pendidikan maupun ekonomi.
“Melalui kegiatan semacam ini saya berharap pemahaman orang tua semakin baik, sehingga mempercepat penurunan kasus perkawinan anak dan kekerasan terhadap perempuan dan anak di NTB,”tutup Bunda Ayu Juita mewakili Ibu Kepala Dinas P3AP2KB.(deasydp3ap2kb)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *