Rakor Kemiskinan dan Stunting Wagub ingatkan Hubungannya dengan Kota Layak Anak

Kuta (07/07/2022)—Saat membuka rakor kemiskinan dan stunting, Wakil Gubenur Hj. Sitti Rohmi Djalilah memberi catatan penting arti hubungan erat antara upaya pencapaian Kota Layak Anak (KLA) dengan kemiskinan dan stunting.

Keberhasilan dalam mewujudkan Kota Layak Anak sangat berpengaruh dalam mengentaskan kemiskinan dan stunting, karena pembangunan daerah yang mengintegralkan perlindungan anak didalamnya berdampak dikemudian hari dengan status kemiskinan dan stunting, dimana indikator KLA adalah masalah hulu, sedangkan kemiskinan dan stunting adalah hilir-nya.

Indikator KLA meliputi aspek pembangunan seperti kesehatan, pendidikan, hak sipil dan sosial menjamin terbebas dari kemiskinan dan stunting. Jika aspek-aspek tersebut dapat dipenuhi artinya masalah hilir ditangani dengan baik, maka dampak di hilir seperti kemiskinan dan stunting dengan sendirinya dapat dicegah.

“Untuk mencapai kondisi tersebut, ada 3 hal yang kita fokuskan, yaitu menurunkan angka kemiskinan menjadi 1 digit, menurunkan angka stunting menjadi 14% pada tahun 2023 serta meraih predikat Provinsi Layak Anak (Provila) pada tahun 2023,”kata Ummi Rohmi berapi-api.

“Cukup sulit memang tapi dengan kerja keras dan sinergisitas antar komponen pembangunan, saya yakin tidak ada yang mustahil yang bisa kita capai,”sambung Ummi Rohmi dihadapan 120 peserta rakor di hotel Raja kawasan Pantai Mandalika Kuta Lombok Tengah.

Selanjutnya Ummi Rohmi mengupas panjang lebar aspek-aspek terkait seperti validasi data kemiskinan berbasis desa yang bisa langsung dapat diakses oleh kabupaten/kota, sehingga tidak ada alasan kevalidan data sasaran.

Data tersebut harus link ke BPJS, BOS dan program lainnya, sehingga sasaran masyarakat rentan/miskin dapat ditangani dengan baik.

Mengenai isu stunting yang menjadi momok bagi Nusa Tenggara Barat, wagub berharap ada progres penanganan menuju kearah yang lebih baik.

“Angka stunting kita harapkan dapat turun dari 19,23% menjadi 14% pada tahun 2023,”pinta Ummi Rohmi.

Dijelaskan Ummi Rohmi bahwa stunting dapat diselesaikan melalui pelayanan kesehatan yang baik dengan memaksimalkan posyandu keluarga. Saat ini ada 7.600 posyandu di Nusa Tenggara Barat tengah berproses menjadi Posyandu Keluarga yang mempunyai layanan lengkap yaitu KIA, remaja dan lansia plus menjadi centre of education bagi beberapa sektor pembangunan seperti zerro waste, desa wisata, desa tanggap bencana, desa bersinar, desa sadar hukum, desa layak anak dan lainnya.

Saat ini data anak stunting 100% dapat diakses by name by adress melalui input e-PPBGM, nama dan lokus bisa dilacak secara akurat dan mudah diintervensi sesuai kebutuhan dan memperhatikan resource dan SDM yang tersedia.

“Saya yakin 2022 kita dapat selesaikan input kasus stunting 100% melalui e-PPBGM, bapak ibu bisa langsung turun ke lokus anak stunting, nah disini pentingnya posyandu keluarga sebagai centre of education bagi program sektoral,”tutup Ummi Rohmi mengakhiri sambutannya.[ddt.dp3ap2kb]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.